To me, the question will be a big question mark, whether make a worthit result if I bothered to fight for improvements to the government?
When I was a college student, became the intellectuals. Then what should be done by intellectuals? That question continues to hang around in my head. When the intellectuals overthrew President of Indonesia in the order baru regime, then if only to the extent that these intellectuals who can do?
What are you accountable responsibility when you choose majors in this college level?
“Bandung City”, then what you think after reading those two words? Is that the Braga road? Or is Paris van Java icon? Cities of Education?
Let us look at things critically, when the bandung city was the first tourist destination in Indonesia, then what will the government do with the gift-frills tourist destination first? Facilities? Have? Convenience? Have? Or congestion? Must have been.
We must know that the number of illness people (downing mental) in the streets grow bigger every year, even growing a lot, rather than diminished.
Back again, what would you discordant for Indonesia ?
Me as a college student majoring in Psychology, has a dream of zero to be realized, but the man must keep trying, the Lord had an affair. More illness people scattered on the streets, then whether it be a sad scene of Bandung?
First, I want to deal directly on the fate of “them”. They will not understand what the Lord gave to them. They even will never understand.
Not disciplined, but it handles. Handle directly. Took to the streets immediately, and make the maximum the existing Mental Hospital. The journey was not finished until here, which actually is a mental treatment at the Mental Hospital.
Bandung has a faculty of psychology that I think most good quality in terms of diagnostics in Indonesia. But why the government just only sit oc comfort chair?
Sudah sekitar 10 Hari berlalu dari ulang tahunku, yang berarti umurku baru 10 hari pada saat 20 tahun yang lalu. Namu sekarang pada kenyataannya umur ku sudah 20 tahun lebih 10 hari. Hari ini bukan tentang kebahagiaan ulang tahun ataupun kado-kado yang didapat di hari ulang tahunku kemarin. Tapi… saya sendiri bingung, apakah ini sebuah kisah membahagiakan, atau layaknya sinteron-sinetron yang memiliki alur cerita mengharukan diakhiri dengan kebahagiaan, atau kisah yang lainnya, entahlah. Juli di tahun kemarin, akan selalu menjadi kejadian bersejarah di hidupku, bukan karena macam peristiwa yang terjadi didalamnya, tetapi sebuah kisah yang memiliki dampak besar dikehidupanku sekarang dan seterusnya. Juli tahun lalu aku dikurung layaknya burung yang baru tertembak oleh penembak, dan diselamatkan oleh orang yang berbaik hati menolong burung itu. Tubuhku penuh dengan segala sesuatu yang berwarna putih, aku sadari betul itu bukan tubuhku. Sebagian kecil dari tubuhku hilang, aku tidak lagi utuh layaknya ibu melahirkan ku utuh dengan kelengkapan seluruh bagian tubuh yang diberikan sang pencipta. Aku sama sekali tidak menyesali dengan apa yang sudah terjadi, aku tidak pernah menyalahkan siapapun, aku tidak menyukai dengan pertanyaan-pertanyaan orang pada waktu itu tentang kejadian itu. Seandainya keadaanku pada saat itu membaik dengan cepat, rasanya ingin aku membuat synopsis mengenai kejadiannya, dan memperbanyaknya, dan memberikan kepada orang-orang yang memiliki pertanyaan “Mengapa, bagaimana, kapan” Dan membaca nya jauh-jauh dari telingaku. Agar aku dapat tidur dengan tenang. Aku sadari betul bagaimana perasaan orang tuaku, tapi aku rasa bukan kesedihan dan rasa kasihan yang aku butuhkan, aku membutuhkan dukungan. Dukungan dalam bentuk apapun. Bukan suara tangis, atau air mata yang dulu aku sering lihat setiap hari di bangsal rumah sakit itu. Mereka hanya akan membuatku menjadi lebih terpuruk dan terpuruk terus menerus. Selama hampir 3minggu aku tidur bukan di tempat tidurku yang sebenarnya. Sungguh aku tidak nyaman dengan ruangan itu, sungguh. Dengan peralatan yang terbuat dari logam yang menempel pada tubuhku, sungguh aku ingin mensyukuri apa yang telah tuhan beri untuku. Sungguh aku tidak ingin berteriak-teriak setiap pagi dan setiap sore hari ketika benda-benda yang berwarna putih ini dilepas dari tubuhku, ingin rasanya dikala waktu itu aku lari, dan menangis sekencang-kencangnya sendiri, tanpa ada siapapun. Untunglah para tentara-tentara berseragam wajib yang berwarna putih itu memiliki tameng kesabaran yang super duper dari manusia normalnya. Selama aku tinggal di kamar asing itu mereka yang membuatku pulih sedikit demi sedikit. Tanpa rasa kenal sebelumnya, dan bahkan tidak ada momen perkenalan sebelumnya, mereka dengan sabar menghadapi aku, menghadapi kebosananku, tangisanku, teriakanku. Aku sangat merindukan aktivitas –aktivitas manusia normal yang selalu aku lihat di jendela kamar asingku itu, setiap hari aku melihat orang menyetir, berjalan, tertawa diluar kaca jendela ku ini. Terkadang aku selalu menekan kedua bagian gigi ini, bagian rahang atas dan bagian rahang bawah hingga berbunyi, dan tanpa ada izin air mataku pun keluar. Tapi ketika aku mempunyai pikiran seperti itu, aku tidak akan menjadi kuat, aku tidak akan menjadi normal kembali. Yah aku timbun pikiran kotor itu rasanya di paling bawah diantara pikiran – pikiran negative yang ada di otakku. Mereka, malaikat lain yang tuhan ciptakan yang tak bersayap. Mereka.. adalah bagian terbesar yang berperan penting, mereka berdatangan silih berganti tanpa rasa bosan, dan tanpa permintaan sebelumnya. Aku rasa mereka adalah aktor dan aktris terbesar yang ada sepanjang masa, mereka datang dengan gayanya masing-masing, dengan ide cerita yang berbeda-beda, Dan membuatku seperti memiliki beratus ratus film Hollywood yang tidak harus diputar di bioskop, tapi diputar di dua jendela pikiran ku ini. Dua bola hitam ku ini. Tertawa, tertawa, tertawa, adalah tema terbanyak yang aku simpan didalam perpusatakaan film otakku ini. Mereka berdatangan setiap hari, rasanya sayapun harus menyediakan ruangan yang lebih banyak untuk memutar film film ini. Yah aku maksud mereka berdatangan dengan penuh rasa semangat ke ruanganku, bergantian, dan selalu ingin datang lagi. Tuhan pepatah yang dulu sering aku dengar ketika kelas 6 sd, pada mata pelajaran bahasa Indonesia, “Selalu ada kebahagiaan disela-sela keterpurukan” Yah.. Kamu sendiri harus menyadari, dan memasang ke 5 panca inderamu dengan apik, maka kamu akan sangat menyadari betapa maha banyaknya kebahagiaan tersebut. Hari terus berlalu dan berlalu, hingga hari terbesar dalam sejarah kehidupanku datang, 22 juli 2010, hari itu sangatlah terasa special bagiku, Dan aku rasa tuhan telah menyiapkan serangkaian rencana di pagi itu, aku disuguhkan dengan tayangan diluar jendelaku, dengan adanya parade pesta kostum yang dilakukan oleh banyak orang sepanjang jalan dago, Tuhan… saya sangat menikmati tayangan mu ini, terimakasih tuhan.. Kemudian serangkaian kata-kata yang tersusun dengan apik terkirim padaku, ucapan, harapan, dan cita-cita banyak tersimpan di kotak pesan handphoneku, dan di situs-situs jejaring social yang aku miliki. Kemudian inilah yang saya rasa anti klimaks dari rangkaian rencana tuhan, Beliau… beliau yang menjadi cerminku ketika aku berada dirumah. Beliau adalah satu-satunya manusia yang menjadi teman sewilayahku dirumah,beliau membawakanku semangkuk mie, sambil berkata “Selamat ulang tahun ksatria kecilku”. Aku tahu aku pura-pura tertidur pada saat itu, karena aku tidak mau membuatnya menjatuhkan airmata yang dirasa akan menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang pria. Aku membaca lanjutan anti klimaks dari serangkaian rencana tuhan tersebut di dalam pesan masuk, beliau mengirimkan pesan padaku. “Kelak kau menjadi anak yang dapat berbuat lebih baik dari ayahnya, menjadi pelindung bagi anakmu, bagi MASA DEPAN ANAKMU, bercerminlah dari apa yang telah ayahmu perbuat, tapi tidau untuk diulangi, berbuatlah dengan caramu nak.. Selamat ulang tahun ke 20 anaku” Itulah pesan yang dikirim padaku, aku yakin ketika ia datang dipagi hari, ia ingin sekali mengatakannya langsung, tapi aku tahu benar bagaimana karateristiknya, ia tidak mau terlihat lemah. Tapi aku juga tahu benar bagaimana hatinya, hatinya tidak sedingin yang teman-temanku lihat. Aku dan kakaku dapat terus mengambil dan membuang nafas hingga saat ini, salah satunya adalah berkat beliau. Rasanya aku ingin sekali membuatnya bangga, membuatnya berdiri dan bertepuk tangan dengan apa yang telah aku perbuat. Dan membuatnya menjadi ayah terberuntung yang pernah ada. Hampir 3 minggu beliau menjagaku, dikamar asing itu. Beliau hanya tidur diantara kedua kursi yang dibentangkan kemudian kakinya tergantung, yang sewaktu-waktu pada malam hari ia harus berpura-pura terbuka matanya, ketika tentara-tentara berseragam putih itu melihat keadaanku. Hingga aku menemui kamar ku yang sebenarnya, beliaupun sungguh masih setia mengantarkanku untuk mengontrol keadaanku dengan rutin, menggendongku masuk pada kendaraan besi itu, kemudian mengeluarkanku dan menyimpanku di kursi yang memiliki 4 roda itu, kemudian mendorongku ke lorong-lorong rumah sakit. Tanpa rasa malu, ketika aku menjadi manusia tidak sempurna layaknya manusia normal. 1bulan kemudian. Dan ketika perayaan umat muslim datang, selepas sholat ied, ayahku memeluku diruang tamu, dan berkata “Maafkan ayahmu, ia tidak dapat menjagamu sepenuh nya seperti dulu kala, sekarang ayahmu tidak dapat mengantarkan dan menjemputmu ketika kamu kecil, tidak bias membantu membuatkan mu PR, maafkan ayahmu yang lalai ini, maafkan nak telah membiarkan sesuatu melukai tubuhmu, Ya Allah maafkan hamba, hamba tidak dapat menjaga titipanmu seperti sedia kala, seutuh yang Engkau berikan dahulu” Lalu aku melepaskannya dan bergegas berjalan cepat kekamar. Aku tidak mau membuatnya merasa berdosa lagi. Aku sangat menyayanginya, aku sangat menyayanginya melebihi rasa sayangku terhadap ibuku. Aku sangat dekat dengannya sedari kecil. Sedari anak sekolah dasar yang seharusnya diantar dan dijemput oleh ibunya seperti teman-teman ku yang lainnya. Hanya aku yang dijemput oleh seorang laki-laki tua. Aku ingat sekali dengan mata pelajaran PPKN sewaktu sekolah dasar, aku menelpon kekantornya, dan menyuruhnya pulang, hanya untuk membantu mengerjakan tugas PPKN ku ini sebelum aku pergi ke sekolah. Dan kelak aku mempunyai impian, bahwa aku akan mengajarkan segala sesuatunya kepada anakku nanti, dan aku sangat ingin mengenalkan sosok Beliau kepada anakku. Agar ia mengetahui mengapa ayahnya berbuat banyak hal kepadanya. “Seorang ayah akan berdiri dibelakangmu, tanpa kau tahu sekalipun, dan ia akan terus disana, sampai kapanpun itu, tidak terbatas ruang dan waktu”